Jambi – Wakil Gubernur Jambi, Abdullah Sani menegaskan pentingnya peran lulusan perguruan tinggi dalam mendorong kemajuan daerah. Menurutnya, potensi besar yang dimiliki Provinsi Jambi harus mampu diolah menjadi produk bernilai tambah.
Hal itu disampaikan Wagub Abdullah Sani saat menghadiri Wisuda Sarjana Ke-X Sekolah Tinggi Teknologi Nasional (STITEKNAS) Jambi Tahun 2026 di Swiss-Belhotel Jambi pada Rabu, 10 Juni 2026 pagi.
Wagub Abdullah Sani mengapresiasi kontribusi STITEKNAS Jambi dalam mencetak sumber daya manusia berkualitas, khususnya di bidang teknik dan teknologi. Ia menyebut, hingga wisuda ke-X ini STITEKNAS Jambi telah meluluskan lebih dari 1.500 sarjana.
“Pemerintah Provinsi Jambi sangat mengapresiasi keberhasilan STITEKNAS Jambi. Provinsi Jambi dikenal memiliki potensi besar di sektor pertanian, perkebunan, pertambangan, energi, logistik, dan industri pengolahan,” ujar Wagub Abdullah Sani.
Menurutnya, tantangan Jambi ke depan bukan hanya memanfaatkan sumber daya alam sebagai bahan mentah. Lebih dari itu, potensi tersebut harus diolah menjadi produk yang memiliki manfaat lebih besar bagi masyarakat dan perekonomian daerah.
“Yang kita butuhkan adalah sumber daya manusia yang mumpuni untuk mengelola, mengolah, dan mengembangkan potensi tersebut. Di sinilah peran strategis STITEKNAS Jambi, bukan hanya mencetak insinyur, tetapi melahirkan motor penggerak transformasi ekonomi berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi,” katanya.
Wagub Abdullah Sani juga mendorong STITEKNAS Jambi terus memperkuat budaya riset dan inovasi. Kampus, katanya, harus mampu menjadi pusat gagasan yang menjawab persoalan nyata masyarakat, mulai dari peningkatan efisiensi UMKM, pengelolaan limbah industri, hingga pengembangan energi terbarukan.
“Pemerintah Provinsi Jambi sangat terbuka memperkuat kolaborasi dengan perguruan tinggi untuk mewujudkan pembangunan berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi, selama sejalan dengan visi dan misi pembangunan Provinsi Jambi,” ucapnya.
Kepada para wisudawan dan wisudawati, Wagub Abdullah Sani berpesan agar gelar sarjana tidak hanya menjadi kebanggaan, tetapi juga amanah untuk berkarya. Ia meminta para lulusan menjaga integritas dan memiliki kepedulian terhadap daerah.
“Saya percaya saudara-saudari telah memberikan usaha terbaik. Jadilah sarjana yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial dan kepedulian terhadap daerahnya,” katanya.
“Wisuda bukan akhir dari perjuangan pendidikan, tetapi awal untuk mewujudkan cita-cita. Kerja, berkarya, bangun daerah, dan buktikan ilmu yang dipelajari,” ucapnya.
Wagub Abdullah Sani menambahkan, pembangunan Provinsi Jambi membutuhkan sinergi lintas sektor, baik ekonomi, kesehatan, pendidikan, teknologi, maupun dukungan bagi UMKM. Ia berharap peningkatan kompetensi lulusan terus dilakukan agar daya saing dan penempatan kerja semakin kuat.
Di akhir sambutannya, Wagub Abdullah Sani menyampaikan selamat kepada para wisudawan dan keluarga. Ia juga mengapresiasi dukungan keluarga yang menjadi bagian penting dari keberhasilan mahasiswa selama menempuh pendidikan.
Sementara itu, Ketua STITEKNAS Jambi Prof. Drs. H. Sutrisno, M.Sc., Ph.D. mengatakan, wisuda tahun ini menjadi momen istimewa bagi kampus. Salah satunya karena untuk pertama kalinya STITEKNAS Jambi meluluskan mahasiswa melalui jalur Rekognisi Pembelajaran Lampau atau RPL.
Menurutnya, jalur RPL menjadi langkah penting untuk membuka akses pendidikan tinggi bagi para profesional industri. Pengalaman kerja puluhan tahun yang dimiliki para profesional dapat diakui sebagai bagian dari pemenuhan persyaratan akademik.
“Penerimaan mahasiswa melalui RPL adalah langkah awal kami dalam memperluas akses pendidikan tinggi serta mendekatkan kampus dengan dunia industri,” ujar Sutrisno.
Ia menjelaskan, pada wisuda ke-X ini STITEKNAS Jambi mewisuda 100 orang lulusan. Rinciannya, 79 wisudawan dari Program Studi Teknik Mesin dan 21 wisudawan dari Program Studi Teknik Industri.
Berdasarkan hasil tracer study, sebanyak 86 persen lulusan STITEKNAS Jambi mendapatkan pekerjaan kurang dari enam bulan. Sementara 14 persen lainnya bekerja lebih dari enam bulan setelah lulus atau tidak mencari kerja karena telah memiliki usaha sendiri. (*)






